Senin, 25 November 2013

tujuan pendidikan islam dalam tafsiran surat al-imran ayat 138-139



BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
            Agama islam sangat menjunjung tinggi pendidikan, serta tidak membeda-bedakan pendidikan kepada laki-laki maupun pendidikan kepada wanita. Sebagaimana hadits  nabi yang berbunyi.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةُ عَلَي كُلِّ مُسْلِمٍِ وَ مُسْلِمَةٍِ
Artinya:
“menuntut ilmu di wajibkan bagi tiap-tiap orang islam lelaki dan orang islam perempuan”.
Didalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang berhubungan dengan  pendidikan, diantaranya surah Al-Alaq ayat 1-5 menjelaskan kewajiban belajar mengajar, begitu juga pada surah Luqman ayat 12-19 yang menjelaskan materi pendidikan.  Dari keterangan hadits dan ayat Al-Quran tersbut dapat kita katakan bahwa didalam islam pendidikan itu sangat penting.
            Dari begitu besarnya perhatian islam terhadap pendidikan, tentu agama islam memiliki tujuan dan alasan tersendiri terhadap permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan memaparkan tujuan agama islam menyuruh umatnya memperhatikan pendidikan. Dimana di dalam memaparkannya kami mengambil dari tafsir ayat-ayat tentang tujuan pendidikan. Dan kami tidak mengambil dari satu kitab tafsir saja, tapi kami menghubungkan dari beberapa kitab tafsir tersebut.





BAB II
PEMBAHASAN
A.     Tujuan pendidikan islam
Muhammad Abduh  menjelaskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai yakni mencakup aspek kognitif (akal), aspek afektif (moral), dan spiritual. Dengan kata lain, terciptanya kepribadian yang seimbang, yang tidak hanya menekankan perkembangan akal, tetapi juga perkembangan spiritual. Sehubungan dengan itu, Quraish shihab pendidikan islam adalah pencapaian tujuan yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an yaitu serangkaian upaya yang dilkukan oleh seorang pendidik dalam membantu anak didik menjalankan fungsinya di muka bumi, baik pembinaan pada aspek material maupun spiritual.
Sementar itu, hasil keputusan kongres pendidikan islam sedunia tahun 1980 di Islamabad, tujuan pendidikan islam yakni upaya untuk menumbuhkan kepribadian manusia yang menyeluruh , secara seimbang, melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Oleh Karena itu, pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa secara individual maupun kolektif mendorong semua aspek kea rah kebaikan dan mencapai kesempurnaan, tujuan akhirnya adalah dengan perwujudan ketundukan yang sempurn kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas maupun seluruh umat manusia.
Sedangkan tujuan pendidikan Nasional menurut undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyatakan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]
Dikatakan oleh Dr. Zakiah Darajat bahwa tujuan pendidikan islam secara keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola takwa, insane kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah SWT. Ini mengandung arti bahwa pendidikan islam itu di harapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya serta senagn dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia kini dan akhirat nanti.[2]
 Tujuan pendidikan islam mempunyai cakupan yang sangat luas baik secara material maupun secara spiritual. Pendidikan islam tidak hanya melihat bahwa pendidikan sebagai upaya mencerdaskan semata melainkan sejalan dengan konsep islam tentang manusia dan hakikat eksistensinya. Bahkan pendidikan islam berupaya menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah, perbedaannya adalah kadar ketaqwaannya sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif.
Akhirnya tujuan pendidikan islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berpengetahuan, dan saling menunjang satu sama lainnya. Jikalau tidak, dapat dinyatakan sebagai kebodohan baru.[3]

B.     Tujuan pendidikan dalam Tafsiran Surah Al-Imran Ayat 138-139

»yd b$ut/ Ĩ$¨Y=Ïj9 Yèdur ×psàÏãöqtBur šúüÉ)­GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ Ÿwur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ

Artinya:
(Al Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.





1.      Mufrodat (Kosakata)
a.       Al-Imran ayat 138
Ini                                                                                                        هَٰذَا
      Penerangan                                                                                          بَيَانٌ
      Bagi manusia                                                                                       لِّلنَّاسِ
      Dan petunjuk                                                                                      وَهُدًى
      Dan pelajaran                                                                                      وَمَوْعِظَةٌ
      Bagi orang-orang yang bertakwa                                                        لِّلْمُتَّقِينَ

b.      Al-Imran 139
Dan jangan                                                                                          وَلَا
Kamu lemah                                                                                        تَهِنُوا۟
            Dan jangan                                                                                          وَلَا
            Kamu bersedih hati                                                                             تَحْزَنُوا۟
            Dan/padahal kamu                                                                              وَأَنتُمُ



      Lebih tinggi                                                                                         ٱلْأَعْلَوْنَ


        jika                                                                                                      إِن
     kamu adalah                                                                                        كُنتُم
        oranag-orang yang beriman                                                                 مُّؤْمِنِينَ










2.      Penjelasan
a.       Al-Imran ayat 138
            Pada ayat 138 menjelaskan bahwa penuturan yang telah lalu tersebut merupakan penjelasan tentang keadaan umat manusia sekaligus sebagai petuah dan nasehat bagi orang yang bertakwa dari kalangan mereka. Petunjuk ini sifatnya umum bagi seluruh umat manusia dan merupakan hujja atau bukti bagi orang mukmin dan kafir, orang yang bertakwa atau fasik.[4]
            Ahmad Musthafa Al-Maraghy dalam tafsirnya menjelaskan, ini (Al-Qur’an) adalah sebagai petunjuk dan petuah yang khusus bagi orang-orang yang bertakwa karena mereka orang yang mau mengambil petunjuk dengan kenyataan-kenyataan seperti ini. Mereka juga mau mengambilnya sebagai pelajaran dalam menghadapi kenyataan yang sedang mereka alami. Orang mukmin sejati adalah orang yang mau mengambil hidayah dari Al-kitab dan mau menerima penyuluhan nasehat-nasehatNya, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firmanNya.[5] (al-baqara: 2)
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Artinya:
Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
            Adapun Ibnu Katsier menjelaskan bahwa firman Allah( b$ut/»yd )”ini adalah penjelasan bagi seluruh manusia” yakni Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penjelasan mengenai berbagai hal, (×psàÏãöqtBur Yèdur) “dan petunjuk serta pelajaran” yakni di dalam Al-Qur’an itu terdapat berita tentang orang-orang sebelum kalian dan petunjuk bagi hati kalian sekaligus pelajaran, yaitu pencegahan terhadap hal-hal yang diharamkan dan perbuatan dosa.[6]
            Sedangkan menurut Quraish shihab dalam bukunya tafsir al-mishbah menjelaskan ini, yakni pesan-pesan yang dikandung oleh semua ayat-ayat yang lalu, atau al-Qur’an secara keseluruhan adalah penerangan yang member keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi seluruh manusia, dan ia juga berfungsi sebagai petunjuk yang member bimbingan- masa kini dan dating- menuju kearah yang benar serta peringatan yang halus dan berkesan menyangkut hal-hal yang tidak wajar bagi orang-orang yang bertakwa, yang antara lain mampu mengambil hikma dan pelajaran dari sunnahtullah yang berlaku dalam masyarakat.[7]
            Prof. Hamka dalam tafsirnya juga mengatakan bahwa memperhatikan orang memperoleh penjelasan, petunjuk, dan pengajaran bagi orang yan bertakwa. Dari sini kita dapat mengetahui lagi betapa luasnya arti takwa. Pokok arti, ialah memelihara (wiqayah). Maksud yang pertama, ialah takwa kepada Allah, memelihara hubungan dengan Allah SWT dan takut kepadaNya. Tetapi dalam ayat ini kta bertemu lagi dengan arti yang lain, yaitu memelihara, menjaga, awas, dan waspada. Maka dengan demikian takwa kepada Allah SWT tidaklah cukup sekedar dengan ibadat shalat, berzakat dan berpuasa saja. Tetepi termasuk lagi dalam rangka ketakwaan ialah kewaspadaan menjaga agama dari intaian musuh. Taat kepada komando pimpinan, sebab kalau kalah karena tidak ada kewaspadaa, jangan Allah yang disalahkan, tetapi salahkanlah diri sendiri yang lengah.[8]
            Al-Qaththan menjelaskan bahwa, dengan mengetahui sejarah perjalanan manusia dan alam ini, maka dapat diambil pelajaran bahwa manusia yang berjalan sesuai dengan sunnatullah dia akan selamat dan begitu pula sebaliknya (al-Qaththan, Juz . 1 h. 223). Dari penjelasannya itu dapat kita ambil kesimpulan bahwa salah satu tujuan pendidikan Islam adalah harus dapat mengantarkan peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku. Sesuai dengan sunnatullah.
b.            Al-Imran ayat 139
            Pada ayat 139 memberitakan bahwa janganlah kalian merasa lemah dalam menghadapi pertempuran dan hal-hal yang di akibatkan olehnya, seperti membuat persiapan dan mengatur siasat perang, lantaran luka dan kegagalan dalam perang uhud. Janganlah kalian bersedih atas orang-orang yang mati selama perang tersebut. Bagaimana perasaan lemah dan sedih menimpah kalian, sedangkan kalian merupakan orang-orang yang berada di atas angin. Sunnatullah telah menerapkan pada saat terdahulu, bahwa akibat yang baik itu bagi oaring-orang yang bertkwa tidak pernah menyimpang dari sunnahnya.[9]
            Hamka dalam tafsirnya terkait surat al-imran ayat 139 menjelaskan bahwa setelah perang uhud yang telah menewaskan tujuh puluh Mujahid Fi-Sabilillah, antarnya Hamzan bin Abdul Muthalib, paman nabi S.a.w sendiri dan nabi S.a.w pun mendapat luka. Kelihatanlah kelesuhan, lemah semangat, dan dukacita; maka datanglah ayat ini: angkat mukamu, jangan lemah dan jangan duka cita. Sebab suatu hal masih ada padamu,modal tunggal yang tidak pernah dapat dirampas oleh musuhmu, yaitu iman. Jikalau kamu benar-benar masih mempunyai iman dalam dadamu, kamulah yang tinggi dan akan tetap tinggi. Sebab iman itulah pandumu menempu zaman depan yang masih akan mau dihadapi.[10]
Adapun Ibnu Katsier menjelaskan      Allah menghibur kaum muslimin dengan berfirman (#qãZÎgs?wur) “janganlah kamu bersikap lemah”. Artinya janganlah kalian melemah akibat peristiwa yang telah terjadi itu, (ûüÏZÏB÷sBOçGYä.bÎ) tböqn=ôãF{$# NçFRr&ur#qçRtøtrBwur) “dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang- orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman “ maksudnya, bahwa kesudahan yang baik dan pertolongan hanya bagi kalian, wahai orang-orang yang beriman.[11]
             Ahmad Musthafa Al-Maraghy dalam tafsirnya juga menjelaskan sesungguhnya cita-cita orang kafir hanya sesuai dengan tujuan rendah yang di kerjanya. Tidak demikian halnya dengan tujuan orang-orang mukmin, yaitu ingin menegakkan mercusuar keadilan di dunia, mengejar kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Dengan syarat kalian benar-benar beriman terhadap kebenaran janji Allah yang akan menolong orang-orang yang menolong Allah. Allah menjadikan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa lagi mau mengikuti sunnahNya dalam tatanan kemasyarakatan ini, sehingga jadilah sifat tersebut tetap bagi diri kalian, mapan dalam jiwa dan amal kalian.
            Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat, karena hal tersebut akan menyakitkan seseorang kehilangan semangat. Sebaliknya Allah tidak melarang hubungan seseoorang dengan apa yang dicintainya, yaitu harta, kekayaan atau teman yang dapat memulihkan kekuatannya, serta dapat mengisi hatinya dengan kegembiraan. Yang dimaksud dengan larangan hal seperti itu adalah mengobati jiwa dengan cara bekerja, meski dengan cara terpaksa.[12]
            Memang penafsiran para penafsir pada ayat 138-139 surah Al-Imran di atas hanya sebagian menyinggung permasalahan pendidikan, hal itu dapat dimaklumi karena para penafsir dalam menafsirkan ayat tersebut mengunakan sudut pandang secara umum. Namun apabila di dalam memahami ayat tersebut menggunakan sudut pandang pendidikan maka akan diketahui tujuan pendidikan yang terdapat pada ayat tersebut.
            Adapun dari surah Al-Imran 138 “(Al Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” dapat kita ketahui bahwa tujuan pendidikan disini ialah agar manusia mengetahui jalan hidup yang lurus dan benar, dimana Al-Quran lah yang menjadi pendidik dan menjadi penerang jalan hidup manusia. Dan tujuan pendidikan pada ayat 139 “Janganlah kamu bersikap lemah” yaitu agar manusia menjadi orang yang kuat, sehat jasmani dan rohani,  “dan janganlah (pula) kamu bersedih hati” yaitu agar manusia bahagia dan tentram hidup didunia dan diakhirat, kemudian dilanjutkan dengan “padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi” yaitu agar derajat manusia bertambah tinggi. Dan kesimpulan tujuan pendidikan yang ada pada ayat 139 ini yaitu agar manusia menjadi orang yang benar-benar beriman kepada Allah, dengan semakin tingginya pendidikan yang manusia dapatkan  diharapkan manusia tersebut semakin kuat imannya kepada Allah SWT. Sehingga tujuan pendidikan tidak akan tercapai apabila seseorang yang mendapatkan pendidikan lebih tinggi bukannya bertambah imannya namun imannya semakin berkurang.
            Selain itu orang yang mendapatkan pendidikan tidak akan tercapai tujuannya apabila nantinya tidak menjadi orang yang dapat mengambil pelajaran dari sejarah, tidak menjadi orang yang jalan hidup yang lurus dan benar, tidak menjadi orang yang kuat serta sehat jasmani dan rohani, tidak menjadi orang bahagia dan tentram hidup di dunia dan di akhirat, tidak menjadi orang yang derajatnya bertambah tinggi.   

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
                Tujuan pendidikan yang terdapat pada surah Al-Imran ayat 138-139 yaitu:
1.      Agar manusia bisa mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu, dari sunnah-sunnah Allah yang berlaku pada manusia sebelumnya.
2.       Agar manusia mengetahui jalan hidup yang lurus dan benar, dimana Al-Quran lah yang menjadi pendidik dan menjadi penerang jalan hidup manusia.
3.      Agar menjadi manusia yang kuat serta sehat jasmani dan rohani, menjadi orang yang bahagia dan tentram hidup didunia dan diakhirat, serta menjadi orang yang derajatnya bertambah tinggi.
4.       Agar manusia menjadi orang yang benar-benar beriman kepada Allah


















DAFTAR PUSTAKA

            Ahmad Musthafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy  jilid  4, Semarang :Toha Putra, 1993.
            Gani Hasniati Ali, ilmu pendidikan islam, Ciputat: Quantum Teaching, 2008.
            Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jakarta: PT. Pustaka Nasional, 1983
            Katsier Ibnu, Terjemah Singkat Ibnu katsier, Surabaya: PT. Bina Ilmu,
            Shihab Quraish, Tafsir al-mishbah, Ciputat: Lentera Hati, 2000
            Uhbiyati Nur, ilmu pendidikan islam, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 1999






















Tugas: Makalah

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM QS. AL-AIMRAN
AYAT 138-139

Copy of SATAIN WARNA.bmp


Oleh
HENRIATI
SITI AZINAH
ANWAR SADAT


JURUSAN TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2013


[1] Hasniati Gani Ali, ilmu pendidikan islam, (ciputat: Quantum Teaching, 2008), h. 32
[2] Nur uhbiyati, ilmu pendidikan islam, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 1999), h. 41
[3] Hasniati Gani Ali, op.cit., h. 34
[4] Ahmad Musthafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy  jilid  4, (Semarang :Toha Putra, 1993), h. 132
[5] Ibid., h. 133
[6] Ibnu Katsier, Terjemah Singkat Ibnu katsier, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,____), h. 149
                [7] Quraish Shihab, Tafsir al-mishbah, (ciputat: Lentera Hati, 2000), h. 211
[8] Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: PT. Pustaka Nasional, 1983), h. 933 
[9] Ahmad Musthafa Al-Maraghy, op.cit., h. 134
[10] Hamka, op.cit., h. 933
[11] Ibnu Katsier, op.,cit. h. 149
[12] Ahmad Musthafa Al-Maraghy, op.cit., h. 134

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar