Senin, 04 November 2013

keutamaan sifat jujur



BAB I
PENDAHULUAN
            Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.
            Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,
            “Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Shidiq
            Shidiq berarti benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong. Seorang Muslim senantiasa di tuntut berada dalam keadaan benar lahir batin; Benar hati (shidiq al-qalb), benar perkataan (shidiq al-hadits) dan benar perbuatan (shidig al-amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.[1]
            Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
            Ar-Raghib dalam kitabnya مفردات القرآن bahwa yang dimaksud dengan jujur ialah benar dalam perkataan yang telah di ucapkan maupun yang bakal diucapkan, baik dalam bentuk janji ataupun selesainya, seperti bertanya dan meminta sesuatu. Tegasnya, jujur adalah satunya hati dengan kata dan sesuainya kata dengan sesuatu yang dikatakan. Sedangkan para ahli Tasawuf mengartikan jujur itu dengan keseimbangan antara lahir dan batin dan antara berbuat dan berkehendak yakin perbuatannya tidak berlawanan dengan amalannya dan amalannya tidak berlawanan dengan perbuatannya.[2]
            Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Sebagamana firman Allah dalam Qur’an surat Al-maidah dan Az-Zumar sebagai berikut.[3]
ttA$s% ª!$# #x»yd ãPöqtƒ ßìxÿZtƒ tûüÏ%Ï»¢Á9$# öNßgè%ôϹ 4 öNçlm; ×M»¨Yy_ ̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Yt/r& 4 zÓÅ̧ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊuur çm÷Ztã 4 y7Ï9ºsŒ ãöqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÊÒÈ 
Artinya:
Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (Al-Maidah: 119)
Ï%©!$#ur uä!%y` É-ôÅ_Á9$$Î/ s-£|¹ur ÿ¾ÏmÎ/   y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqà)­GßJø9$# ÇÌÌÈ
Artinya:
            “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka       itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)
            Sebagaiman firman Allah di atas orang yang benar baik dalam perkataan dan perbuatan sebagaimana yang di tunjukan nabi Muhammad SAW adalah orang-orang yang bertakwa tentunya perkataan dan perbuatan benar/jujur pelaku utamanya di karenakan memiliki hati yang benar yang di dalamnya dihiasi iman kepada Allah SWT dan bebas dari penyakit-penyakit hati. Benar dalam berkata, apabila semua perkataan yang diucapkan adalah tentang kebenaran bukan hal-hal yang batil. Dan benar perbuatan, apabila semua yang dilakukan selalu bersandar pada syari’at islam.
            Sikap shidiq membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Olehnya itu Rasulullah SAW memerintahkan setiap muslim untuk selalu jujur baik dalam berkata maupun dalam perbuatan. Sebaliknya beliau melarang umatnya berkata bohong, karena kebohongan selalu membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan memperoleh ganjaran neraka.[4]
B.     Bentuk bentuk Kejujuran
            Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Di di bawah ini akan jelaskan lima bentuk kejujuran baik jujur secara vertical dan horizontal.
1.      Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
2.      Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
3.      Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta.
4.      Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.
5.      Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah.[5]
C.    Keutamaan sifat jujur
            Ash-shidqu atau benar adalah sesuainya sesuatu dengan kenyataannya, baik berupa perkataan, sikap, ataupun perbuatan. Dalam bahasa kita, istilah lainnya adalah jujur. Ash-shidqu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa.[6] Rasulullah SAW bersabda,
اية المنا فق ثلا ث اذا حد ث كذ ب واذاوعداخلف واذا ائتمن خا ن
Ma’nal mufradat:
Tanda-tanda orang munafik                                                                                            اية المنا فق
Tiga (perkara)                                                                                                                           ثلا ث
Apabila berbicara                                                                                                                اذا حد ث
Bohong-dusta                                                                                                                           كذ ب 
Berjanji                                                                                                                                        وعد
Mengingkari                                                                                                                             اخلف 
Dipercaya                                                                                                                                 ائتمن 
Berkhianat                                                                                                                   يخو ن    خا ن-
Terjemahan:
            “Tanda-tanda orang munafik itu tiga perkara: apabila berbicara ia berdusta, apabila            berjanji ia ingkar dan apabila ia dipercaya ia berkhianat”. (HR.Bukhari Muslim)
Penjelasan:
            Orang munafik adalah orang yang bermuka dua di luar ia mengatakan beriman dan menampakkan diri seperti orang yang beriman tetapi hatinya ingkar kepada Allah. Orang munafik jika berkumpul dengan orang islam, ia pura-pura menjalankan ajaran agama, apabila berkumpul dengan teman segolongan, ia tidak menjalankannya. Bahkan mereka menjelek-jelekkan agama. Orang munafik adalah musuh umat islam. Mereka sangat berbahaya. Bahkan lebih berbahaya dari orang kafir, karena mereka adalah musuh dalam selimut. Allah mengancam orang munafik dan kafir dengan nereka jahannam. Sebagaimana firman Allah dalam surah at-taubah ayat 68 sebagai berikut.
ytãur ª!$# šúüÉ)Ïÿ»oYßJø9$# ÏM»s)Ïÿ»oYßJø9$#ur u$¤ÿä3ø9$#ur u$tR tL©èygy_ tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù 4 }Ïd óOßgç6ó¡ym 4 ÞOßguZyès9ur ª!$# ( óOßgs9ur Ò>#xtã ×LìÉ)B ÇÏÑÈ

Artinya:
            “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam mereka kekal di dalamnya”. (At-taubah:68)
            Dalam hadis di atas nabi bersabda bahwa tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu:
1.      Apbila berkata, maka kata-katanya itu dusta
2.      Apabila ia berjanji, ia mengingkari janjinya
3.      Apabila ia dipercaya, ia berkhianat
            Hadis Nabi di atas menunjukkan bahwa sifat-sifat dusta, mengingkari janji, dan berkhianat adalah sifat yang sangat buruk dan berbahaya. Sifat-sifat itu merupakan cirri-ciri orang munafik. Umat islam sangat dilarang memiliki sifat-sifat dusta, menhingkari janji dan berkhianat.
            Orang munafik adalah orang yang berdusta dalam ucapannya, ia mengatakan beriman, tetapi hatinya ingkar. Kalau berkumpul dengan orang islam mereka mengatakan beriman. Tetapi setelah berkumpul dengan golongan, mereka mengatakan bahwa pernyataan iman yang mereka ucapkan hanyalah olok-olok saja.
Firman Allah:
#sŒÎ)ur (#qà)s9 tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqä9$s% $¨YtB#uä #sŒÎ)ur (#öqn=yz 4n<Î) öNÎgÏYŠÏÜ»ux© (#þqä9$s% $¯RÎ) öNä3yètB $yJ¯RÎ) ß`øtwU tbrâäÌöktJó¡ãB
Artinya:
            “Dan bila mereka (orang munafik) berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka             mengatakan “kami telah beriman”, Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan         mereka, mereka mengatakan: “sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami             hanyalah berolok-olok”. (Al-Baqarah: 14)
            Dalam kehidupan sehari-hari orang yang suka berdusta akan sengsara hidupnya karena akan di benci oleh kawan-kawannya. Sifat suka berdusta itu pada mulanya tidak di ketahui oleh orang lain. Setelah berkali-kali ia berdusta, akhirnya ketahuan juga. Iapun dibenci dan dikucilkan kawan-kawannya. Oleh sebab itu umat islam tidak boleh berdusta dalam ucapannya.
            Orang munafik adalah orang yang mengingkari janji. Ia mengucapkan dua kalimat sahadat. Kalimat sahadat adalah ikrar yang mengandung janji untuk menyembah Allah dan mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah. Dengan demikian orang yang mengucapkan dua kalimat sahadat berarti mereka berjanji menyembah Allah dan mentaati ajaran Rasulullah. Namun orang munafik mengingkari janjinya itu.
            Dalam kehidupan sehari-hari orang yang suka mengingkari janji, akan dijauhi oleh kawan-kawanya. kawan-kawanya segan berhubungan dengannya. Mengingkari janji adalah sifat buruk yang harus dibuang jauh-jauh. Orang islam tidak boleh mengingkari janji yang telah dibuatnya. Oloeh sebab itu tepatilah janjimu. Apabila berjanji ucapkanlah “insya Allah”. Apabila tidak dapat menepati janji karena ada halangan mendadak, beritahukanlah kepada kawanmu dan mintalah maaf kepadnya.
            Orang munafik  adalah orang yang berkhianat terhadap amanat. Agama adalah amanat Allah yang harus dipelihara dan diamalkan. Orang yang mengaku beragama islam tetapi tidak melakukan ajaran islam berarti telah menghianati amanat allah. Orang munafik dikatakan berkhiabat terhaadap amanat Allah Karena mangaku beragama islam tetapi mereka tidak memelihara dan tidak mengamalkan ajaran islam. Mereka mengerjakan beberapa ajaran agama untuk menutupi dirinya. Mereka tidak sungguh-sungguh mengerjakan.
            Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang suka berkhianat terhadap amanat yang diberikan padanya, akan kehilangan kepercayaan dari kawan-kawannya. Kawan-kawannya tidak percaya lagi kepadanya. Oleh karena itu tunaikanlah amanat yang diberikan kepadamu, baik amanat Allah maupun amanat dari temanmu.[7]

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Orang munafik adalah orang yang menyatakan beriman kepada Allah, tetapi hatinya ingkar kepada-Nya.
2.      Orang munafik akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam
3.      Cirri-ciri orang munafik antara lain ada tiga perkara, yaitu:
a.       Apabila berkata, ia dusta
b.      Apabila berjanji, ia ingkar
c.       Apabila dipercayakan amanat, ia berkhianat
4.      Orang islam tidak boleh memiliki sifat-sifat buruk yang menjadi cirri-ciri orang munafik itu.
5.      Sifat-sifat buruk itu akanmerugikan diri sendiri dan merusak keimanan.









DAFTAR PUSTAKA
Kuraedah Siti, hadits tarbawy, kendari: Istana Profesional, 2008
Rahmawati, pembinaan akhlak 1, cet. I; Kendari: CV SHADRA, 2009
Sulaemang, hadits dakwah, kendari:                    ,2007.













Tugas: Hadist Tarbawi

KEUTAMAAN SIFAT JUJUR


Copy of SATAIN WARNA.bmp

Oleh
ANWAR SADAT
NIM: 10 010101095


JURUSAN TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2013


[1] Rahmawati, pembinaan akhlak 1, (cet. I; Kendari: CV SHADRA, 2009), h. 99
[2] Siti kuraedah, hadits tarbawy, (kendari: Istana Profesional, 2008), h. 115-116
[4] Op.cit, rahmawati, h. 99-100.
[7] Sulaemang, hadits dakwah, (kendari:               ,2007), h. 84-88.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar