Rabu, 24 April 2013

proposal ana



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakekatnya berlangsung dalam suatu proses. Proses itu berupa transformasi nilai-nilai pengetahuan, teknologi dan keterampilan.
Penerima proses adalah anak atau siswa yang sedang tumbuh dan berkembang menuju ke arah pendewasaan kepribadian dan penguasaan pengetahuan. Selain itu, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang diperoleh melalui proses yang panjang dan berlangsung sepanjang kehidupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yaitu:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْر
Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Mujadalah : 11)[15]
Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak yang lahir, tumbuh dan berkembang secara manusiawi dalam mencapai kematangan fisik dan mental masing-masing anak. Di dalam keluarga, setiap anak memperoleh pengaruh yang mendasar sebagai landasan pembentukan pribadinya.
Untuk lebih meningkatkan potensi pada diri anak, orang tua tidak hanya mendidik anaknya di rumah, akan tetapi mereka mengirimkan atau menitipkan anaknya ke sekolah, agar mampu memenuhi tuntutan zaman sekaligus meningkatkan pendidikan pada anak tersebut.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua yang bertugas membantu keluarga dalam membimbing dan mengarahkan perkembangan serta pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat, ataupun sebagai individual.


Sejauh  ini,  ada sebuah  fenomena yang  tidak bisa dipandang sebelah mata oleh para guru, dimana banyak peserta didik yang merasa sekolah ibarat penjara, sekolah merupakan candu, sekolah tidak bisa menimbulkan semangat belajar. Bahkan  lebih parah,  banyak peserta didik yang paling suka bila sang guru absen, tanpa merasa kehilangan sesuatu. Boleh jadi, fenomena tersebut disebabkan selama ini peserta didik hanya diposisikan sebagai objek atau robot yang harus dijejali beragam materi sehingga membuat peserta didik tidak   betah   di   kelas.   Sedangkan,   pengajaran   yang   baik   yaitu   ketika   para peserta didik bukan hanya sebagai  objek  tapi   juga subjek. siswa akan menjadi aktif tidak pasif dengan begitu, peserta didik akan merasa betah dan paham penjelasan guru. Untuk mengejawantahkan hal ini dibutuhkan kejelian dan krekatifitas guru dengan cara mendesain model  pembelajaran yang bisa mengena   setiap gaya  belajar   setiap peserta  didik.  Sehingga   semua  peserta didik merasa enjoy dan pas atas  sajian yang disampaikan oleh guru,   tanpa merasa bosan dan terkekang.
Peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan di kelas. Jika  pendidik menginginkan  agar   tujuan pendidikan  tercapai   secara efektif  dan  efisien,  maka  penguasaan materi   saja   tidaklah  cukup. Ia  harus menguasai berbagai teknik atau metode penyampaian yang tepat dalam proses belajar  mengajar. 
Hal ini bisa dilakukan dengan cara beragam dan dalam semua mata pelajaran. Guru dalam menyampaikan mata pelajaran bukan   hanya   dengan  metode   ceramah   atau   auditori-guru   berbicara  murid mendengarkan   tanpa   ada  feedback  (umpan   balik)-,   namun   guru   harus menggabungkan ranah visual dan kinestetik.  Misalnya dalam pelaran agama Islam tentang shalat, guru atau ustadz tidak hanya menjelaskan secara verbal tentang apa itu salat dan kaifiyat (tata cara) salat dari A sampai Z, namun juga bisa menggunakan media audio-visual berupa VCD pembelajaran sholat. Selain lebih efektif dan efisien,  hal   ini  bisa membuat  peserta didik menikmati pembelajaran  dan  tidak jenuh karena  merasa   ikut   aktif   dalam  proses   belajar.   Setelah   itu,  untuk menyentuh aspek kinestetiknya, peserta didik diajak untuk mendemonstrasikan/ mempraktikkannya satu   persatu   atau   secara   kolektif.   Hal   ini   dapat   menghindari ketidak-pahaman para peserta didik dan peserta didik lainya akan menjadi aktif dan tidak jenuh dalam mengikuti proses belajar di kelas.
Dalam   mata   pelajaran   Fiqih   untuk   siswa   pada   umumnya   guru menggunakan metode pembelajaran ceramah. Dengan metode tersebut, siswa dituntut   untuk   duduk   dengan   tenang,   mendengarkan   dan  melihat   guru mengajar   selama   berjam-jam.  Gaya   guru   yang   statis   dapat menimbulkan kejenuhan   siswa   dalam  mengikuti   pelajaran,   yaitu   adanya   sikap   kurang perhatian   terhadap  materi,   gelisah   dan   bosan.  Metode   ceramah   sebaiknya digunakan apabila akan menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik yang jumlahnya besar.
Dari  keterangan diatas  menunjukkan bahwa metode dalam kegiatan belajar  mengajar  khususnya  pembelajaran Fiqih adalah  faktor  yang penting, sehingga   berbagai  metode   dapat   digunakan   dalam menyampaikan materi Fiqih, karena pada hakikatnya siswa lebih menyukai suatu pembelajaran yang menyenangkan atau melalui aktivitas-aktivitas dalam kelas.
 Salah satu bidang studi yang diajarkan di MAN. adalah fiqih. Fiqih secara umum merupakan salah satu bidang studi Islam yang banyak membahas tentang hukum yang mengatur pola hubungan manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya. Melalui bidang studi fiqih ini diharapkan siswa tidak lepas dari jangkauan norma-norma agama dan menjalankan aturan syariat Islam.
Proses belajar-mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan betul-betul tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia.[16] Disini guru sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya pribadi yang diinginkan.
Sedangkan metode adalah suatu cara dan siasat penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran, agar siswa dapat mengetahui, memahami, mempergunakan dan menguasai bahan pelajaran. Selain itu juga dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik.
Kedua kegiatan ini saling mempengaruhi dan dapat menentukan hasil belajar. Disini kemampuan guru dalam menyampaikan atau mentransformasikan bidang studi dengan baik, merupakan syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi karena hal ini dapat mempengaruhi proses mengajar dan hasil belajar siswa.
Salah satu strategi dan metode belajar mengajar yang dapat diterapkan untuk meningkatkan berbagai bentuk tingkah laku positif dan prestasi pada siswa melalui metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi selain menuntut guru menguasai kompetensi juga memberikan contoh kepada siswa tentang materi dan Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Demonstrasi dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang berdiri sendiri dalam suatu proses belajar mengajar, atau dapat digunakan bersama-sama dengan metode lain dalam suatu kombinasi multimetode.
Secara umum demonstrasi dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan keefektifan tercapainya tujuan pengajaran.
Berdasarkan wawancara dengan guru Mata Pelajaran Fiqih di Kelas X MAN BAU-BAU, diketahui bahwa Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih masih rendah. Hal ini ditunjukan dengan masih banyaknya siswa yang memperoleh nilai rendah pada pelajaran fiqih semester ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013..

B.     Batasan Masalah dan Rumusan Masalah


1.      Batasan Masalah
Berangkat dari latar belakang tersebut, maka penulis membatasi permasalahan ini hanya pada metode demonstrasi pada mata pelajaran fikih dan prestasi belajar siswa kelas X MAN Bau-Bau.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka perlu dirumuskan masalah penelitian ini adalah  “Apakah ada pengaruh penerapan metode demonstrasi pada mata pelajaran fikih terhadap prestasi belajar siswa kelas X MAN Bau-Bau


C.    Hipotesis
Hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah “Ada pengaruh penerapan metode demonstrasi pada mata pelajaran fikih terhadap prestasi belajar siswa kelas X MAN Bau-Bau”.
D.    Definisi Operasional

1.      Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Dengan menggunakan metode demonstrasi, guru atau murid memperlihatkan kepada seluruh anggota kelas mengenai suatu proses, misalnya bagaimana cara sholat yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.
2.      Prestasi belajar siswa adalah perolehan nilai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam hal ini perolehan nilai semester atau nilai raport siswa pada mata pelajaran fikih tahun akademik 2012/2013.

E.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui penerapan metode Demonstrasi pada Mata Pelajaran Fiqih.
b.      Untuk mengetahui Prestasi Belajar siswa Mata Pelajaran Fiqih  kelas X MAN Bau-Bau.
c.       Untuk Mengetahui pengaruh penerapan metode demonstrasi pada mata pelajaran fikih terhadap prestasi belajar siswa MAN Bau-Bau Tahun Pelajaran 2012/2013.
2.  Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna :
a.          Bagi guru dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan alternatif pilihan dalam
          melakukan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan bagi siswa.
b.         Bagi siswa, dengan pengalaman belajar melalui penerapan motode
 Demonstrasi dapat terbiasa melakukan Praktek terutama dalam hal ibadah dan muamalah.
c.         Bagi penulis sendiri, dengan adanya penelitian ini menambah wawasan atau pengetahuan khususnya dalam menyusun proposal untuk menyelesaikan studi di STAIN SULTAN QAIMUDDIN KENDARI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar