Sabtu, 01 Oktober 2011

FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN PEMBELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan masyarakat modern dewasa ini tidak mungkin di capai tanpa kehadiran sekolah sebagai organisasi yang menyelenggerakan proses pebdidikan secara formal. Namun sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menyelenggrakan pendidikan, karena masih ada institusi keluarga, dan pendidikan luar sekolah. Justru semua institusi pendidikan dimaksud harus berkolaborasi dalam mengoptimalkan pembinaan anak sebagai generasi penerus.oleh sebab dalam setiap lembaga atau organisasi sangat memebutuhkan yang nama nya manajemen dimana dengan manajemen itu sendiri setiap organisai atau pun lembaga-lembaga formal lain nya akan lebih mudah untuk mengatur, mengelolah, dan mengarahkan lembaga teresebut sehingga tercpainya sesuatu ysng diinginkan dalam waktu yang lebih efisien.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana rencana manajemen pembelajaran ?
2. Apa urgesi perencanaan pembelajaran ?
3. Bagaimana pengorganisasian dalam pembelajaran ?
4. Bagaimana kepemimpinan dalam pembelajaran ?
5. Bagaimana meningkatan mutu dalam pembelajaran ?








BAB II
PEMBAHASAN
A. Perencanaan Manajemen Pembelajaran
Perencenaan merupakan penyusunan langka-langka kegiatan yang akan di lakukan untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Suatu perencanaan dapat di susun berdasarkan jangka waktu tertentu yaitu jangka panjang , menengah, dan pendek. Menurut luas jangkauannya yaitu perencanaan Macro dan Micro. Perencanaan pembelajaran memiliki defenisi yang beragam, namun untuk memahami istilah perencanaan pembelajaran, dapat di telusuri dari pengertingan perencanaan dan pembelajaran.
Menurut Wiliam H Newman dalam Abdul Majid, mengemukakan bahwa “perencanaan adalah menentukan apa yang akan di lakukan”. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Anderson (1989:47), perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seseorang dimasa depan.Yang dimaksud dengan perencanaan pembelajaran menurut Davis (1996) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan mengajar.Dalam kedudukannya sebagai seorang manajer, guru melakukan perencanaan pembelajaran yang mencakup usaha untuk :
a) Menganilisis tugas.
b) Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan atau belajar.
c) Menulis tujuan belajar.

1. Model Perencanaan
Suatu model perencanaan pengajaran sistematik, mengandung beberapa langkah, yaitu :
 Identifikasi Tugas-tugas.
 Analisis Tuga
 Penetapan Kemampuan.
 Spesifikasi Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap.
 Identifikasi Kebutuhan Pendidikan dan Latiha
 Perumusan Tujuan.
 Kriteria Keberhasilan Program.
 Organisasi Sumber-sumber Belajar.
 Pemilihan Strategi Pengajaran.
 Uji Lapangan Program.
 Pengukuran Realibitas Program
 Perbaikan dan Penyesuaian.
 Pelaksanaan Program.
 Monitoring Program.
Sebagai suatu model perencanaan pengajaran, Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional Khusus (PSSI) memiliki langkah-langkah sebagai berikut, yaitu :
• Perumusan Tujuan Pengajaran.
• Pengembangan Alat Penilaian.
• Penetapan Pedoman Proses Kegiatan Belajar Siswa.
• Penetapan Pedoman Kegiatan Guru.
• Pedoman Pelaksanaan Program.
• Program Perbaikan (revisi).
2. Karakteristik Perencanaan Pembelajaran
Bicara tentang dimensi perencanaan pengajaran, berkenaan dengan luas dan cakupan aktivitas perencanaan yang mungkin dalam system pendidikan, yang merupakan karakteristik perencanaan pengajaran adalah :
1. Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan social dan konsep-konsepnya dirancang oleh banyak orang.
2. Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.
3. Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan.
4. Perencanaan pengajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah manajemennya.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan Pembelajaran
a. Faktor guru
Guru merupakan komponen yang menentukan, hal ini disebabkan guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan siswa. Disini guru bisa berperan sebagai perencana atau desainer pembelajaran untuk mengimplikasikan sebagai implementator dan atau mungkin keduanya. Sebagai perencana guru dituntut untuk memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada sehingga semuanya di jadikan komponenen-komponen dalam rencana dan desain pembelajaran. Menurut dunkin (1974) ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas guru yaitu :
• Teacher formatif experience mengikuti jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka, yang termasuk kedalam aspek ini diantaranya tempat asal kelahiran guru, termasuk suku, latar belakang budaya dan adat istiadat, keadaan keluarga dimana guru itu berasal.
• Teacher training experience meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar pendidikan guru, misalnya pengalaman latihan professional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan,dsb.
• Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru terhadap siswa, sikap guru terhadap profesinya, kemampuan atau intelegensi guru, motivasi dan kemampuan mereka baik dalam pengelolaan pembelajaran,termasuk didalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran.
b. Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama itu, disamping karakteristik lain yang melekat pada diri anak.
Menurut Dunkin (1974) faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi:
• Aspek latar belakang meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran dan tempat tinggal siswa, tingkat social ekonomi siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa berasal dan lain sebagainya.
• Dilihat dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap.
• Aspek sikap dan penampilan siswa dalam proses pembelajaran juga merupakan faktor yang memengaruhi proses pembelajaran. Adakalanya ditemukan siswa yang sangat aktif (hyperkinetic) dan ada pula siswa yang pendiam, tidak sedikit juga ditemukan siswa yang memiliki motivasi yang rendah dalam belajar.
c. Faktor sarana dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancarana proses pembelajaran misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah,dsb. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran misalnya, jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil,dsb.

B. Urgensi Perencanaan Pembelajaran

Apa yang dimaksud perencanaan pembelajaran ? Davis (1996) menjelaskan bahwa perencanaan pengajaran adalah pekerjaan yang di lakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan mengajar. Menurut Rose dan Nicholl (2002) nilai terbesar terletak pada guru yang lebih suka membimbing dari pada mnggurui anak didiknya dan pada guru yang menjadi perancang pengalaman-pengalaman yang merangsangpemikiran dan masalah-masalah yang relavan untuk di pecahkan. Sedangkan Dick dan Reiser (1989:3) menjelaskan: “An instructional plan consist of a number of component that, when integrated, provided you with an outline for delivering effective intruction yo learners”. Dipahami bahwa rencana pengajaran terdiri dari sejumlah komponen yang jika dipadukan memberikan garis besar atau panduan bagi penyampain pengajaran efektif kepada para pembelajar.
Mengapa perlu rencana pengajaran yang dibuat guru ? Menurut Anderson (1989:47) ada beberapa alasan pentingnya, rencana guru,yaitu: (1). Perencanan dapat mengurangi kecemasan, dan ketidakpastian , (2). Perencanaan memberikan pengalamn pembelajaran bagi guru, (3). Perencanaan memebolehkan para guru untuk mengakomodasi perbedaan individu diantar murid, (4). Perencaan memberikan struktur dan arah untuk pembelajaran. Tegasnya, perencanaan memang sangat diperlukan oleh guru.
C. Pengorganisasian Pembelajaran
1. Mengorganisir Sumber DayaPembelajaran
Mengorganisir dalam pembelajaran adalah pekerjaan yang dilakukan seorang guru dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar dengan maksud mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien (Devis, 1991).
Lebih jauh menurut Davis, proses pengorganisasian dalam pengkajian meliputi empat kegiatan, yaitu:
1) Memilih alat taktik yang tepat
2) Memilih alat bantu belajar atau audio-visual yang tepat
3) Memilih memilih besar kelas (jumlah murid yang tepat)
4) Memilih strategi yang tepatuntuk mengkomunikasikan peraturan-peraturan prosedur-prosedur serta pengajaran yang kompleks.
Cara dan prosedur menciptakan suasana belajar dikelas, menurut Bock(Arinkunto, 1989) yaitu:
a. Sebelum guru masuk kelas
Tahap ini adalah tahap persiapan. Persiapan ini di sebut kegiatan menciptakan pra-kondisi. Pekerjaan ini dilakukan di luar kelas, sebelum guru mengajar.
Adapun cara yang di tempuh oleh guru yaitu:
a) Merumuskan apa yang penting dan harus apa yang di miliki siswa
b) Merancang bantuan-bantuan yang cocok akan di berikan kepada siswa
c) Merancang waktu yang sesuai dengan topik/poko bahasan pelajaran.
b. Pada waktu guru di kelas
Adapun cara yang dapat ditempuh oleh guru mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a) Memperhatikan keragaman siswa sehungga guru memperlakukan mereka dengan cara dan waktu yang berbeda.
b) Mengadakan pengukuran terhadap berbagai pencapain siswa sebagai hasil belajarnya.
Guru yang profesional dan kompoten akan dapat menjalankan pembelajaran dengan metodologi yang tepat. Ahmad Tafsir (1992:33) berpendapat bahwa metodolog pengajaran adalah pengetahuan yang membicarakan berbagai metode mangajar yang dapat digunakan oleh guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini mtode belajar adalah (a) merupakan salah satu komponen dari proses pendidikan, (b) merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar,(c) merupakan kebulatan dalam satu sistem dalm pengajarn.
Dapat disimpulkan bahwa metode belajar mengajar adalah taktik atau strategi yang diguankan oleh guru dalam menyampaikan mata pelajaran kepada peserta didik. Salah satu dimensi strategi itu adalah metode-metode mengajar. Di samping hal di atas seorang guru di tuntut untuk memiliki kompetensi dalam penguasaan mata pelajaran yang diajarkannya. Seorang guru harus mengetahui arti dan isi mata pelajaran yang di ajarkan dan harus dikuasainya dengan baik.
Guru sebagai menejer dapat mengorganisakan bahan pelajaran untuk di sampaikan kepada murid dengan beberapa metode yaitu:
1) Ceramah
2) Demontrasi
3) Diskusi
4) Metode tanya jawab
5) Metode Drill/latihan siap
6) Metode resitasi
c. pengelolaan kelas
Guru adalah penanggung jawab pembelajaran didalam kelas. Sejumlah siswa yang mengikuti mata pelajaran sama dalam waktu yang sama untuk mencapai tujuan pembelajaran perlu diatur, diarahkan dan dipengaruhi dalam satu interaksi. Arikunto (1992) berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang di lakukan oleh guru (pananggung jawab) dalam membantu murid sehingga dicapai kondisi optimal pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar seprti yang di harapkan.
Pengelolaan kelas berkaitan dengan dua kegiatan utama, yaitu: (1) pengelolaan yang berkaitan dengan siswa, (2) pengelolaan yang berkaitan dengan fisik ( ruangan, perabot, alat pelajaran). Kegiatan membuka jendela, mengatur bangku, menyalakan lampu bila kurang terang, menggeser papan tulis supaya lebih jelas merupakan pengelolaan bersifat fisik kelas.
Adapun tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di keas dapat bekerja dengan tertib sehingga sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan siswa adalah mengenai besar atau kecilnya ukuran atau jumlah siswa dalam satu kelas. Ada dua sudut pamdang yang terkait dengan menetapkan ukuran kelas yang tepat. Di satu sisi, bila ukuran kelas terlalu besar jumlah siswanya, maka akan berhubungan langsung dengan perbaikan mutu pelajaran. Akan tapi dari segi pambiayaan, pengurangan siswa dalam satu kelas, tentu akan berakibat pada membesar pembiayaan yang harus dikeluarkan
D. Kepemimpinan Dalam Pembelajaran
1. Hakikat Pemimpin
“Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai . Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
2. Kepemimpinan dalam pembelajaran
Dalam kontekstual pembelajaran kepemimpinan pembelajaran lebih berorientasi pada: (1) proses bagaimana kualitas pembelajaran mengalami peningkatan dari waktu ke waktu; (2) menggerakkan siswa mencapai kompetensi dasar semaksimal mungkin; dan (3) penumbuhan motivasi internal belajar anak didik. Ketiga orientasi tersebut tidak diterjadikan secara terpisah-pisah. Target akhir kepemimpinan pembelajaran adalah guru mampu menumbuhkan motivasi (internal motivation) internal belajar anak didik, yang selanjutnya menjadi penggerak (drive) bagi anak didik untuk secara mandiri (self motivation) berupaya (guru sekadar fasilitator, mediator, reseources linker, advisor) dalam mencapai kompetensi dasar pada dirinya secara maksimal sebagai bentuk kualitas pembelajarannya.
Dalam rangka implementasi kepemimpinan pembelajaran seorang guru dituntut menguasai alat pembelajaran yang disebut kewibawaan. Kewibawaan merupakan “alat pendidikan” yang diaplikasikan oleh guru untuk menjangkau (to touch) kedirian anak didik dalam hubungan pendidikan. Kewibawaan ini mengarah kepada kondisi high touch, dalam arti perlakuan guru menyentuh secara positif, kontruktif, dan kompehensif aspek-aspek kedirian/kemanusiaan anak didik. Dalam hal ini guru menjadi fasilitator bagi pengembangan anak didik yang diwarnai secara kental oleh suasana kehangatan dan penerimaan, keterbukaan dan ketulusan, penghargaan, kepercayaan, pemahaman empati, kecintaan dan penuh perhatian (Rogers, 1969; Gordon, 1974; Smith, 1978; Barry & King, 1993; Hendricks, 1994). Sejalan dengan pengembangan suasana demikian itu, guru dengan sungguh-sungguh memahami suasana hubungannya dengan anak didik secara sejuk, dengan menggunakan bahasa yang lembut, tidak meledak-ledak (Silberman, 1970 dan Gordon, 1974).
Guru menyadari bahwa sikap guru sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kegiatan belajar anak didik (Smith, 1978). Hubungan antara guru dan anak didik memang seharusnya dibuat menjadi suasana demokratis dengan pola hubungan “saya oke, kamu juga oke” (Beechhold, 1971), yaitu suasana saling membuka diri tanpa dihalangi oleh adanya sikap atau perasaan negatif ataupun permasalahan di antara kedua belah pihak.
Kewibawaan meliputi: (a) pengakuan, (b) kasih sayang dan kelembutan, (c) penguatan, (d) pengarahan, (e) tindakan tegas yang mendidik, dan (f) keteladan yang mendidik.
a) Pengakuan adalah penerimaan dan perlakuan guru terhadap anak didik atas dasar kedirian/kemanusiaan anak didik, serta penerimaan dan perilaku anak didik terhadap guru atas dasar status, peranan, dan kualitas yang tinggi.
b) Kasih sayang dan kelembutan adalah sikap, perlakuan, dan komunikasi guru terhadap anak didik didasarkan atas hubungan sosio-emosional yang dekat-akrab-terbuka, fasilitatif, dan permisif-konstruktif bersifat pengembangan. Dasar dari suasana hubungan seperti ini adalah love dan caring dengan fokus segala sesuatu diarahkan untuk kepentingan dan kebahagiaan anak didik, sesuai dengan prinsip-prinsip humanistik.
c) Penguatan adalah upaya guru untuk meneguhkan tingkah laku positif anak didik melalui bentuk-bentuk pemberian penghargaan secara tepat yang menguatkan (reinforcement). Pemberian penguatan didasarkan pada kaidah-kaidah pengubahan tingkah laku.
d) Pengarahan adalah upaya guru untuk mewujudkan ke mana anak didik membina diri dan berkembang. Upaya yang bernuansa direktif ini, termasuk di dalamnya kepemimpinan guru, tidak mengurangi kebebasan anak didik sebagai subjek yang pada dasarnya otonom dan diarahkan untuk menjadi pribadi yang mandiri.
e) Tindakan tegas yang mendidik adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku anak didik yang kurang dikehendaki melalui penyadaran anak didik atas kekeliruannya dengan tetap menjunjung kemanusiaan anak didik serta tetap menjaga hubungan baik antara anak didik dan guru. Dengan tindakan tegas yang menddik ini, tindakan menghukum yang menimbulkan suasana negatif pada diri anak didik dihindarkan.
f) Keteladanan adalah penampilan positif dan normatif guru yang diterima dan ditiru oleh anak didik. Dasar dari keteladanan adalah konformitas sebagai hasil pengaruh sosial dari orang lain, dari yang berpola compliance, identification, sampai internalization (Musen & Rosenzweig, 1973).




























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perencanaan pembelajaran memiliki defenisi yang yang beragam, namun untuk memahami istilah perencanaan pembelajaran, dapat di telusuri dari pengertingan perencanaan dan pembelajaran. Menurut Wiliam H Newman dalam Abdul Majid, mengemukakan bahwa “perencanaan adalah menentukan apa yang akan di lakukan”. Mengorganisir dalam pembelajaran adalah pekerjaan yang dilakukan seorang guru dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar dengan maksud mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien
Dalam rangka implementasi kepemimpinan pembelajaran seorang guru dituntut menguasai alat pembelajaran yang disebut kewibawaan. Kewibawaan merupakan “alat pendidikan” yang diaplikasikan oleh guru untuk menjangkau (to touch) kedirian anak didik dalam hubungan pendidikan. Kewibawaan ini mengarah kepada kondisi high touch, dalam arti perlakuan guru menyentuh secara positif, kontruktif, dan kompehensif aspek-aspek kedirian/kemanusiaan anak didik.
B. Kritik Dan Saran
Demikianlah makalah yang dapat pemakalah sampaikan. Pemakalah sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif pemakalah harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.
Dan semoga apa yang telah pemakalah buat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian yang budiman dan khususnya bagi pemakalah sendiri. Aminnn……








DAFTAR PUSTAKA

Alim Nur.,dkk, Manajemen pembelajaran, Membumi Publishing: makkasar, 2009
http://blog.binadarma.ac.id/muhammadinah/?p=121
Syafaruddin & Irwan nasution, Manajemen pembelajaran, Quantum teaching: Jakarta, 2005
http://imbang88.wordpress.com/2010/04/01/fungsi-fungsi-manajemen-pembelajaran-dalam-penerapan-pembelajaran-pendidikan-luar-sekolah/
http://guruidaman.blogspot.com/2011/03/karakteristik-perencanaan-pembelajaran.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar